Standar Penulisan Berita

Untuk menjaga kualitas pemberitaan, Scientiarum butuh standarisasi proses produksi (baca: peliputan). Kalau di sebuah korporasi, standarisasi macam ini biasa disebut “standard operating procedure”. Scientiarum sendiri punya tujuh poin standarisasi.

Pertama, bohong itu haram dalam jurnalisme. Mungkin ini terdengar wagu, aneh, dan menggelikan. Semua wartawan juga tahu bahwa mereka tak boleh bohong. Bohong sama dengan memutarbalikkan fakta. Tapi poin ini dibuat di atas asumsi bahwa setiap orang bisa lupa, entah sengaja atau tidak. Pokoknya jangan mengada-ada. Oleh karenanya, poin ini harus ada sebagai pengingat, juga penegur kala ada niat jahat.

Kedua, mendekat ke sumber primer. Wartawan Scientiarum tidak boleh melakukan peliputan hanya dengan mengandalkan sumber-sumber sekunder berupa berita media lain, rilisan pers dari humas, atau sumber literatur saja. Terjun ke lapangan untuk riset, observasi, dan wawancara pelaku kejadian adalah keharusan. Gunanya untuk meminimalisir adanya bias fakta.

Ketiga, liput kedua belah pihak. Ketika ada konflik, peliputan yang sepihak saja justru memperkeruh keadaan. Ingat bagaimana Suara Maluku dan Ambon Ekspres jadi pendorong kerusuhan Ambon? Jurnalisme sebenarnya kudu mengademkan konflik dengan memfasilitasi ruang diskusi yang sehat bagi pihak-pihak yang berkonflik.

Keempat, hanya menerima sumber anonim (narasumber yang tidak disebutkan identitasnya) yang memenuhi tujuh kriteria sumber anonim ala Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang sudah digodok oleh Pantau, media di Jakarta. Tujuh kriteria sumber anonim itu ditulis oleh Andreas Harsono dan akan dibahas lebih lanjut pada materi JURNALISME SCIENTIARUM – KELAS S.

Kelima, penulisan nama orang, tempat, jabatan, dan sebagainya jangan sampai salah. Ini penting demi akurasi laporan. Misalnya saja, tak ada jabatan Ketua Senat Mahasiswa Universitas; yang ada adalah Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas.  Atau Goenawan Mohammad, sebenarnya ditulis tanpa dobel “M”: Goenawan Mohamad.

Keenam, pengutipan kalimat langsung harus disepakati bersama dengan narasumber, atau jika tidak memungkinkan, setidaknya harus sesuai dengan isi rekaman. Tidak boleh dikarang ataupun dikira-kira.

Ketujuh, verifikasi. Sumber daya manusia Scientiarum amatlah terbatas. Akan sangat berat bagi penyunting untuk mencek kembali fakta-fakta sebuah laporan. Oleh karenanya, setiap wartawan Scientiarum wajib melakukan verifikasi secara mandiri setiap keterangan yang diperolehnya, apakah fakta atau tidak.

Tujuh poin utama di atas selalu terbuka bagi revisi dan kritik, pun dapat diterapkan ke dalam produksi berita foto dan video. Setiap pelanggaran standarisasi ini akan dibahas pengganjarannya lewat rapat redaksi. Semoga bermanfaat.

Dibuat tahun 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *